jika bisa berteriak dan menangis akan aku lakukan, Namun kesempatan itu belum datang.
Ingin mengatakan bahwa hati ini sakit atas tingkah yang mereka perbuat namun tak bisa kulaksanakan.
Mereka yang memasukkan ke dalam lingkaran tapi juga yang menjejaliku dengan kalimat arrogant yang memaksaku untuk keluar. "Memangnya Kamu pernah memikirkan tentang dakwah gitu?" suatu pertanyaan yang masih melayang di benakku, yang membuat aku berada di dalam lingkaran kegalauan. yah memang aku tidak terlalu berkontribusi seperti halnya mereka yang selalu memberikan yang terbaik untuk dakwah. tapi merekalah yang membuatku seperti ini bukan?merekalah yang sibuk sendiri tanpa memberi tahu kami yang tidak paham. Bahkan di dalam tubuh sistem dakwah itu sendiri saya rasa menerapkan sistem kapitalis karena akan terbagi 2 golongan secara tidak langsung, yakni kaum proletal sebut saja kaum yang memiliki pemahan lebih, serta kaum borjuis yang sangatminim akan pemahaman dakwahnya. disini mereka kaum proletal berhak mengobrak abrik serta melakukan hal sesuai dengaan yang mereka inginkan, alasan utamanya karena mereka lebih paham. sementara kaum borjuis merupakan golongan kuli yang sebisa mungkin bisa berbuat sesuai dengan pemahaman mereka (proletal, red)
tapi wallahua'lam hanya Allah yang tahu bagaimanar sebenarnya, tulisan ini benar-benar diatas dasarkan pada ketidakpahaman akan dakwah.
kalau dipikir lebih jauh ras-rasanya tidak mugkin seperti itu yang diajarkan Rasulullah mungkin saja Orang yang di dalamnyalahyang melakukan hal seperti itu, yap may be no may be yes. no body can guess it..
Kamis, 26 Desember 2013
Menyongsong Pemilu 2014;Bebaskan Dari Kegalauan
Kata galau di tahun ini memang
masih menjadi trending word di berbagai kalangan dimanapun, termasuk di
kalangan politisi. Menjelang tahun pesta demokrasi para pemain politik ini ikut
diwarnai dengan huru hara kegalauan. Namun kegalauan disini tidak hanya
diperuntukkan bagi pelaku politik itu sendiri tapi dikhususkan kepada pemirsa
politik yang nantinya akan menjadi penyumbang
suara bagi pelaku politik agar manuver kepemimpinannya tidak bergulir di tahun
2014 mendatang. Sekalipun penyebab kegalauan massal yang dialami oleh pemirsa
politik ini tidak sepenuhnya dilakukan oleh para pemain atau aktor di pesta
demikrasi ini tetap saja sebagai pelaku politik, mereka berperan aktik dalam
penggalauan massal ini. Pasalnya para
aktor ini berlomba-lomba mencitrakan dirinya dan partai yang di dudukinya
melalui berbagai media elektronik maupun media massa serta secara langsung turun pada pemirsa politik
yang mereka inginkan. Bersamaan dengan pencitraan tersebut mereka juga menjatuhkan antara satu
dengan yang lainnya dengan pembeberan permasalahan serta setumpuk kasus yang
dilakukan oleh masing-masing kadernya sehingga kegalauan massal ini pun kembali
mewarnai pemilu di indonesia yang mau tidak mau akan berdampak pada suramnya masa
depan bangsa ini sebagai akibat pemimpin yang dipilih diatas dasarkan kegalauan
alias kebingungan.
Seharusnya pesta demokrasi ini
dijadikan titik tumpu untuk melukis negeri ini menjadi lebih baik, meskipun terlaksanananya pemilu dengan
efektif yang memungkinkan terpilihnya pemimpin terbaik di negeri ini tidak
menjamin dapat menyelesaikan semua persoalan di negeri ini .
Sebagai kaum muda tanah air ini
sudah sepatutnya kita menjadi pemuda intelektual yang ikut andil dalam
mencerdaskan pemilu 2014. Menjadikan agenda besar negeri sebagai pintu gerbang
menuju indonesia yang sejahtera, sebagai salah satu langkah solutif dalam
menuntaskan buntalan permasalahan yang dikandung ibu pertiwi ini. Lalu langkah kongkrit
apa yang dapat kita lakukan?
Sederhana saja cukup dengan menjunjung nilai idealisme
layaknya pemuda pendobrak reformasi , dengan menjamin kampus bebas dari
pemasaran partai serta tidak ikut andil
dalam politik praktis, dengan begitu kita tidak ikuta mewarnai pemilu ini
dengan kegalauan massal yang terjadi. Karena pada dasarnya ideologi kita adalah
pancasila bukan ideologi partai. Namun bukan berarti kita berdiam diri saja
menghadapi kegalauan pemirsa politik ini, tugas kita dalam hal ini adalah mencerdaskan pemirsa politik bahwasannya penerimaan uang
merupakan salah satu black campaign, TV tak lagi independent karena hampir
keseluruhan channel telah dimiliki petinggi partai, media yang beredar tak lagi
dapat dipercaya, maka matikan TV segera dan berhenti sepenuhnya percaya pada
media, dan membantu mereka memilih
sesuai dengan keyakinan hati. Satu hal
yang tidak boleh terlupakan adalah membantu KPU mencerdaskan pemirsa politik
dalam menyalurkan hak suara mereka agar tidak syahnya suara terminimalisir, hal
ini tentu akan menjadikan pemilu 2014 sebuah pemilu yang cerdas. Mari tuntaskan
kegalauan massal ini menyongsong pemilu 2014 agar ibu pertiwi tak menangis
kembali 5 tahun kedepan di mulai dari
diri sendiri, mulai detik ini.
Langganan:
Postingan (Atom)