Halaman

Minggu, 05 Mei 2013

#Big Hug



Make it real, Guys!!!
Pagi ini, tak sengaja saya lihat profil masing-masing teman SMA saya. So amazing! Mereka menginspirasi saya. Melihat foto-foto mereka yang sudah melancong ke luar negeri, membuat bulu saya bekidik. Ternyata mereka mampu melakukannya, bahkan tak disangka disana mereka juga mendapatkan berbagai penghargaan. Mereka telah menaklukkan mimpi mereka, dan membuktikan luar negeri itu dekat. Ada yang ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Jepang , Thailand, Australia, Rusia dan negara lainnya. Luar biasanya lagi mereka melakukannya tanpa bergantung pada yang namanya “Money”. Cukup dengan berbekalkan sebuah misi dan potensi diri, yang tentunya ditemani keyakinan terhada kuasa Allah yang diatas segalanya mereka telah melakukan semunya dengan mudah. Mungkin tak semudah yang kita kira, namun jika dibandingkan dengan kisah pemimpi lainnya mereka bisa dibilang MUDAH.
Sebetulnya saya sudah tak heran lagi dengan mereka-mereka ini, di saat SMA kita di didik untuk mencoba dan melakukan suatu hal yang baru. Sehingga lingkungan di sekolah kami ini sangat memungkinkan untuk tumbuhnya para pencetak prestasi dan lascar penakluk mimpi. Saya pun ikut terpengaruh saat masih duduk di sekolah ini. Membuat saya semangat untuk  berprestasi, melakukan yang terbaik. Saya yang biasanya paling takut menunjukkan karya saya, mulai berani menunjukkannya. Saya yang dulu paling takut mengikuti berbagai macam jenis ajang perlombaan—dikarenakan takut berada di rangking pealing bawah dalam perlombaan itu, berubah menjadi gadis yang cukup antusias mengikuti berbagai macam ajang perlombaan. Meskipun pada akhirnya hanya beberapa saja yang dapat mendapatkan penghargaan, bahkan terkadang hanya sebagai peserta saja.
Sayangnya, kini rasa antusias itu mengikis perlahan. Sebagai akibat ketiadaan teman yang satu frekuensi dalam menghadapi perjalanan hidup ini. mungkin saya belum menemukannya, best hug to meet them soon!. Semoga setelah membaca catatan jejak para penakluk mimpi ini dapat mengembalikan spirit saya untuk melakukan hal serupa. Common, please activated on moodboster!.
Keliling luar negeri?Why not?selama kita percaya pada kebesaran Allah hal itu sangat mungkin terjadi, dengan nilai angka peluang sama dengan satu. Jika mereka mampu memanfaatkan peluang dengan angka sempurna tersebut, kenapa Kita tidak?Mereka juga makan nasi kok, Mbak. Bedanya dengan kita adalah mau atau tidak mau. Masih gak mau?masih ragu? Apa yang tidak mungkin bagi Allah coba?so, get up, and achieve it soon!
Yuuk, melangkah bersama gapai cita untuk menyambut kebesaran-Nya!Bermimpi=Mengakui KebesaranNya.Allahuakbar!
#Semoga mimpi-mimpi yang aku usung dapat terealisasikan.  Hingga menjadi nyata kelak di waktu yang tepat. #big Hug.

Rabu, 01 Mei 2013

create on thirty minutes...#gajebo jadinya^^

Wajah Sistem Pendidikan di Indonesia
Setiap tahun, negeri yang telah merdeka di tahun 1945 ini, selalu berkutat dengan masalah pendidikan. Dari tahun ke tahun selalu ada program kerja pemerintah yang bertujuan untuk memajukan pendidikan Indonesia. Namun pada kenyataannya, kualitas pendidikan Indonesia terus menurun. Berdasarkan Berdasarkan artikel yang diterbitkan website BBC, Sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia menurut tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson. Ranking ini jmemadukan hasil tes internasional dan data seperti tingkat kelulusan antara 2006 dan 2010. Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil. Sementara negara tetangga seperti Malaysia, singapura terus peringkatnya melaju naik. Padahal, dulu negara tetangga mengirimkan anak bangsanya untuk mengenyam pendidikan di Indonesia. Apa sebenarnya yang terjadi pada sistem pendidikan bangsa kita ini?
Berulang kali telah melakukan perubahan sistem pendidikan yang diikuti perubahan kurikulum, mulai dari tahun 1945 hingga saat ini telah mengalami hampir 9 kali mengalami perubahan. Hal ini mengindikasikan ketidak konsistenan perangkat pendidikan untuk meningkatkan kualitas bangsa ini. Sebenarnya kemana system pendidikan kita ini akan berkiblat. Mencoba kurikulum yang satu ke yang lainnya, dengan mengacu pada sistem pendidikan yang diterapkan negeri lain, dengan sebuah paradigma kalau bukan dari luar negeri kita tidak menganggapnya baik.  Mungkin mereka lupa, bahwasannya budaya negeri ini berbeda dengan negara lain, yang tentunya akan menyebabkan karakter bangsanya pun akan berbeda. hal inilah yang menyebabkan sistem pendidikan di negeri ini tak memiliki arah. Hingga akhirnya bangsa ini tidak memiliki karakter, ciri, budaya, dan cara sendiri yang akan lebih tepat dan sesuai untuk membenahi sistem pendidikan di negara kita.
Ditambah lagi, liberalisasi dan privatisasi pendidikan yang dilakukan pemerintah  akhir-akhir ini, yang merefleksikan lepas tangan pemerintah terhadap pendidikan. Jelas semua ini tidak sesuai dengan kontitusi yang mengamanahkan negara untuk mencerdaskan bangsa. Belum lagi, hadirnya RUU pendidikan di tahun ini. memperlakukan anak bangsa sesuka hati mereka. menjadikan tunas-tunas bangsa sebagai kelinci percobaan atas eksperimen yang menurut mereka benar. Melakukan pembenahan dengan dalih meningkatkan kualitas bangsa, yang pada ujungnya menggerogoti kekayaan bangsa. Ini merupakan pembodohan tersistematis, yang secara perlahan akan mengikis karakter bangsa dan membobrokkan pendidikan. Parahnya lagi, 2 tahun kedepan akan diberlakukan Asean Community, dimana kita tidak hanya bersaing dengan orang Indonesia saja, tetapi juga dengan 11 negara anggota Asean, kita boleh mendapatkan pekerjaan di 10 negara selain Indonesia, sebaliknya mereka juga boleh dan leluasa akan mendapatkan pekerjaan di negara kita. Sudah bisa dipastikan dengan kualitas pendidikan bangsa yang seperti ini kita hanya membukakan lahan baru untuk bangsa lain.
Beginilah kondisi pendidikan di negara ini, sungguh sangat ironis  Seolah perjuangan Ki Hajar Dewantara tak ada artinya. Duka yang mendalam untuk Hardiknas di tahun ini. Melepas kepergian sang pahlawan serta atas bobbroknya kondisi pendidikan di negeri ini.
                                                                                                                                    21_1992_AKA

Followers