Halaman

Senin, 04 November 2013

Jaga Dia untuk Kami



Tulisan ini  sengaja saya buat untuk seorang teman saya yang telah menginspirasi saya,  yang telah memahamkan saya akan kasih sayang serta sejuta pengorbanan yang telah Ibu lakukan.  Pokoknya teman saya yang satu ini patut d banggakan, proud to be him on high level pokok e. Bagi dia ibunya adalah nafasnya. Apa pun dia lakukan  demi kebahagian ibundanya. Salah satu moment yang membuat hati saya terketuk dan terinspirasi untuk selalu menghormati Ibu saya terjadi kala saya duduk di bangku SMP. Waktu itu kami sedang mengikuti kemah persami, malamnya kami sangat sibuk mempersiapkan api unggun. Disela sela itu salah satu teman saya memperhatikan perbincangan antara laki-laki itu dengan kakak pembina.  Rupanya dia meminta izin pulang, gara-gara bundanya sakit kepala. Jelas kakak pembina tidak mengizinkan, sebab jarak rumahnya dari sekolah cukup jauh apalagi hari sudah larut. Namun dia tetap keras kepala, dia gunakan kemampuan advokasinya untuk menjelaskan secara diplomatis akan masalahnya.  Akhirnya kakak pembina mengizinkannya pergi , tepat pukul 21.00 dia pergi kalau tidak salah maklum Cuma denger dari teman yang mempeerhatikan perbicangan dia dengan kakak pembina.
Ketika teman saya menceritakan hal itu, awalnya saya tidak percaya. Sebab mana mungkin dia melakukan hal itu. Namun setelah saya mengenalnyamemang benar dia begitu hormat dan santun pada ibundanya. Dia sangat dekat, bahkan tak ada satu selaputpun memisahkan mereka. Tak heran jika dia selalu beruntung, apa yang dia inginkan pasti tercapai. Saya rasa hal itu sebagai akibat do’a ibunya dihantarkan secepat kilat dengan keshalehannya. Semenjak itu aku mulai belajar bagaimana cara menghormati seorang ibu yang tak lain adalah seorang malaikat yang telah Allah kirim untuk kita.
Luar biasanya lagi, teman saya ini rela mengesampingkan cita-citanya untuk kuliah di luar negeri demi ibundanya, bahkan dia tidak mau kuliah di luar provinsi JATIM. Namun stelah pertimbangan saudara-saudaranya akhirnya dia mengenyam pendidikan di luar provinsi kami. Sayangnya, Ibundanya tak dapat melihat dia menggunakan toga hitam, beliau meninggal dunia ketika anak laki-lakinya ini baru sehari tiba di kota tempat dia menuntut ilmu untuk melanjutkan kuliahnya di semester baru. Tentu saja dia langsung bertolak kembali ke kampung halamannya untuk menyaksikan ibundanya terakhir kali. Namun takdir berkata lain, tak ada tiket pesawat yang dapat membawa dirinya di malam itu juga. Apa boleh dikata, mau tidak mau dia harus melewatkan senyum terakhir dari ibundanya karena malam itu juga jenazah harus disemayamkan. Tentu saja, saya sanga terkejut mendengar berita ini, dan bergegas pergi untuk mengucapkan turut berduka cita. Dan syukurlah saya tidak melihat teman saya itu, sebab saya tidak akan tega menyaksikan dia melepas kemesraannya dengan ibunya.
Saya rasa ibundanya tak pernah kecewa atas ketidakhadirannya di hari itu, saya yakin ibundanya sangat bahagia dan senang di sisi-Nya akibat keshalehannya. Lagipula saya rasa teman saya ini sudah bisa dikatakan cukup membahagiakan ibundanya dengan prestasi yang dimilikinya. That’s way saya bersyukur  sekali hal ini tidak terjadi pada saya, karena selama ini saya belum mampu mengukir senyum diwajah ibu saya, saya belum mengabdi sebagaimana yang telah diajarkan rasulullah kepada kita. Yang ada hanya rasa sakit yang tak henti-hentinya saya hantarkan. Bayangkan saja apabila hal ini terjadi pada saya, saya akan menjadi orang yang paling menyesal sedunia, karena telah melewatkan waktu saya tanpa membalas kasih sayang beliau.
Saat itu saya terus berpikir, bagaimana mungkin dulu saya lebih memilih teman-teman saya dibandingkan ibu saya. Sementara yang membesarkan dan merawat saya adalah beliau. Sudah membuat susah selama 9 bulan, menyiksa beliau bertubi-tubi di tiap waktun istirahatnya, menyehatkan dalam tumbuh kembang  kita dengan uang hasil kerja kerasnya, betapa buruknya kita bukan jika belum menghormati dan tidak mau berusaha untuk membahagiakan beliau. it’s time to show it!Ketika beliau sudah tak disamping kita, tak menemani hari kita lenyaplah kesempatan itu. Duhai Rabb ampuni kami jika kami tak mampu memberinya kebahagiaan seperti halnya beliau dan berikan kami petunjuk untuk senantiasa mengukir senyum di wajah malaikat kami ini. Bantu kami untuk memberikan yang terbaik untuk ibunda kami layaknya beliau yang selalu mengedepankan urusan kami Jaga Mereka untuk Kami. Kami sangat mencintai mereka karena Engkau Rabb.

Followers