Tulisan
ini sengaja saya buat untuk seorang
teman saya yang telah menginspirasi saya,
yang telah memahamkan saya akan kasih sayang serta sejuta pengorbanan
yang telah Ibu lakukan. Pokoknya teman
saya yang satu ini patut d banggakan, proud to be him on high level pokok e.
Bagi dia ibunya adalah nafasnya. Apa pun dia lakukan demi kebahagian ibundanya. Salah satu moment
yang membuat hati saya terketuk dan terinspirasi untuk selalu menghormati Ibu
saya terjadi kala saya duduk di bangku SMP. Waktu itu kami sedang mengikuti
kemah persami, malamnya kami sangat sibuk mempersiapkan api unggun. Disela sela
itu salah satu teman saya memperhatikan perbincangan antara laki-laki itu
dengan kakak pembina. Rupanya dia
meminta izin pulang, gara-gara bundanya sakit kepala. Jelas kakak pembina tidak
mengizinkan, sebab jarak rumahnya dari sekolah cukup jauh apalagi hari sudah
larut. Namun dia tetap keras kepala, dia gunakan kemampuan advokasinya untuk
menjelaskan secara diplomatis akan masalahnya.
Akhirnya kakak pembina mengizinkannya pergi , tepat pukul 21.00 dia
pergi kalau tidak salah maklum Cuma denger dari teman yang mempeerhatikan
perbicangan dia dengan kakak pembina.
Ketika
teman saya menceritakan hal itu, awalnya saya tidak percaya. Sebab mana mungkin
dia melakukan hal itu. Namun setelah saya mengenalnyamemang benar dia begitu
hormat dan santun pada ibundanya. Dia sangat dekat, bahkan tak ada satu selaputpun
memisahkan mereka. Tak heran jika dia selalu beruntung, apa yang dia inginkan
pasti tercapai. Saya rasa hal itu sebagai akibat do’a ibunya dihantarkan
secepat kilat dengan keshalehannya. Semenjak itu aku mulai belajar bagaimana cara
menghormati seorang ibu yang tak lain adalah seorang malaikat yang telah Allah
kirim untuk kita.
Luar
biasanya lagi, teman saya ini rela mengesampingkan cita-citanya untuk kuliah di
luar negeri demi ibundanya, bahkan dia tidak mau kuliah di luar provinsi JATIM.
Namun stelah pertimbangan saudara-saudaranya akhirnya dia mengenyam pendidikan
di luar provinsi kami. Sayangnya, Ibundanya tak dapat melihat dia menggunakan
toga hitam, beliau meninggal dunia ketika anak laki-lakinya ini baru sehari
tiba di kota tempat dia menuntut ilmu untuk melanjutkan kuliahnya di semester
baru. Tentu saja dia langsung bertolak kembali ke kampung halamannya untuk
menyaksikan ibundanya terakhir kali. Namun takdir berkata lain, tak ada tiket
pesawat yang dapat membawa dirinya di malam itu juga. Apa boleh dikata, mau
tidak mau dia harus melewatkan senyum terakhir dari ibundanya karena malam itu
juga jenazah harus disemayamkan. Tentu saja, saya sanga terkejut mendengar
berita ini, dan bergegas pergi untuk mengucapkan turut berduka cita. Dan syukurlah
saya tidak melihat teman saya itu, sebab saya tidak akan tega menyaksikan dia
melepas kemesraannya dengan ibunya.
Saya
rasa ibundanya tak pernah kecewa atas ketidakhadirannya di hari itu, saya yakin
ibundanya sangat bahagia dan senang di sisi-Nya akibat keshalehannya. Lagipula
saya rasa teman saya ini sudah bisa dikatakan cukup membahagiakan ibundanya
dengan prestasi yang dimilikinya. That’s way saya bersyukur sekali hal ini tidak terjadi pada saya, karena
selama ini saya belum mampu mengukir senyum diwajah ibu saya, saya belum
mengabdi sebagaimana yang telah diajarkan rasulullah kepada kita. Yang ada
hanya rasa sakit yang tak henti-hentinya saya hantarkan. Bayangkan saja apabila
hal ini terjadi pada saya, saya akan menjadi orang yang paling menyesal
sedunia, karena telah melewatkan waktu saya tanpa membalas kasih sayang beliau.
Saat
itu saya terus berpikir, bagaimana mungkin dulu saya lebih memilih teman-teman
saya dibandingkan ibu saya. Sementara yang membesarkan dan merawat saya adalah
beliau. Sudah membuat susah selama 9 bulan, menyiksa beliau bertubi-tubi di
tiap waktun istirahatnya, menyehatkan dalam tumbuh kembang kita dengan uang hasil kerja kerasnya, betapa
buruknya kita bukan jika belum menghormati dan tidak mau berusaha untuk
membahagiakan beliau. it’s time to show it!Ketika beliau sudah tak disamping
kita, tak menemani hari kita lenyaplah kesempatan itu. Duhai Rabb ampuni kami
jika kami tak mampu memberinya kebahagiaan seperti halnya beliau dan berikan
kami petunjuk untuk senantiasa mengukir senyum di wajah malaikat kami ini. Bantu
kami untuk memberikan yang terbaik untuk ibunda kami layaknya beliau yang
selalu mengedepankan urusan kami Jaga Mereka untuk Kami. Kami sangat mencintai
mereka karena Engkau Rabb.